Menganalisa Donald Trump

menganalisa donald trump boxing gesture

Menganalisa Donald Trump – Jika kita sama-sama perhatikan sejak era FDR, tidak pernah ada Partai yang bisa tiga kali berkuasa berturut-turut kecuali di era Bush dan Reagan.

Republik akan kembali ke Demokrat atau Demokrat akan kembali ke Republik, paling tidak dalam dua masa periode.

Demokrat dikenal Partai Pasifis, cinta damai, gagasan gagasannya geopolitik dan diplomatis, sementara Republik dikenal Partai Militer, tapi juga dia seperti Golkar, isinya saudagar semua.

Ada kalanya Republik menjadi Mesin Perang dalam beberapa konstelasi politik dunia, seperti di masa Reagan saat Amerika Serikat memulai provokasi di Granada, atau ketika Bush menyerbu Irak yang menginvasi Kuwait di tahun 1990, yang ketika penyerbuannya penuh drama dan kita saksikan di televisi saat itu, dimasa penuh kenangan masa Orde Baru.

Demokrat partai yang penuh perdamaian, Carter misalnya sebagai antitesis dari Nixon yang begitu ganas di Asia Tenggara, juga terhadap Gerald Ford yang hanya meneruskan kebijakan Nixon saat, Nixon mengundurkan diri karena tulisan tulisan Bob Woodward dan Carl Bernstein di Washington Post yang membuat Nixon mundur. Kemudian digantikan Gerald Ford, setelah itu Carter naik, seorang Presiden yang suka puisi dan pikirannya menganggap semua orang adalah “baik”.

Carter ingin membuat dunia lebih damai, ia rajin diplomasi, ia kunjungi Israel, ia kunjungi Mesir tapi sikapnya itu justru membawa Presiden Anwar Sadat ditembak mati pengawalnya dan perang mangkin mengganas di Tanah Palestina, lalu ia menjadi bahan tertawaan dunia ketika Iran berhasil meringkus beberapa orang Amerika dan dipertontonkan, seraya dunia paham bahwa Carter si Tukang Kacang ini lemah.

Tapi akhirnya kan ketahuan, itu kerjaannya Tim Sukses Reagan yang bertemu dengan Khomeini dan ada deal akan adanya pembebasan tawanan Iran, tapi dengan syarat pembebasan setelah Reagan dilantik, jelaslah tim sukses Reagan membelah dua posisi “Before” and “After” yang melakukan operasi ya George Bush dan William Casey. Untuk kerjaan lobbying rahasia, keluarga Bush emang jagonya, di masa Hitler peran ayah George Bush membantu Hitler jadi pembicaraan publik, bersama dengan Averell Harriman.

Walaupun Republic menjadi mesin perang dalam banyak kasus sejarah di Amerika Serikat, namun posisinya seimbang dengan siklus kekuasaan karena Demokrat kemudian membawa pesan pesan damai, Bill Clinton adalah generasi yang dibentuk oleh JF Kennedy dalam “Peace Corps”, Clinton membawa pesan damai, memperbaiki dunia dan amat perhatian dengan lingkungan, Eropa Barat terutama Inggris sangat nyaman dengan Clinton, PM Inggris Tony Blair bisa dikatakan anak didik Clinton, tapi Clinton jatuh hanya satu soal : Blow Job dengan staf magang Gedung Putih.

Nah, soal Hillary ini seperti anomali dalam siklus kekuasaan di Amerika Serikat, rakyat Amerika melihat Demokrat sebagai mesin perang di Suriah, omongan Obama soal perdamaian dunia tidak dipercaya lagi, ISIS lekat dengan Hillary karena suatu statement keceplosannya, dan email yang bocor.

Trump dengan cerdas ambil strategi kampanye. Banyak yang mengira Trump sedang mempermainkan politik rasial, tapi sesungguhnya Trump sedang menggoyang strategi narasi Hillary yang terlalu akademisi dan penuh catatan kaki ilmiah, Ketika Hillary bermain dengan logika akademisi, Trump membawa pesan dengan logika televisi. Logika televisi di Amerika Serikat itu penuh action, penuh perkelahian dan permusuhan tapi endingnya menang, inilah bahasa rakyat yang dipahami dalam keseharian. Trump jago mengambil strategi kampanye ini. Dan efektif dari yang dipandang remeh dan jadi bahan ketawaan kelas intelektual sedunia, pada detik ini kita melihat Trump memimpin suara…

Dan politik bukanlah sekedar pesan pesan singkat, ia adalah rekam jejak, Hillary sangat bertanggung jawab soal Suriah, sementara Trump diharapkan membawa panggung tinju ala Don King ke panggung politik yang penuh tontonan, terserah mau gaya Ali yang penuh sisi dramatik mulai dari perdebatan mulut besarnya, atau simpel gaya Tyson, tonjok dan selesai…

Yang jelas, Trump punya watak asli pedagang bukan diplomat yang gatal perang…

politik tidak sesederhana yang kita kira
politik tidak sesederhana yang kita kira

Banyak yang menertawai ketika Novanto bertemu dengan Trump, mereka mengolok-olok Novanto, kelas menengah Indonesia memang kebanyakan mendukung Hillary, estimasi politik Novanto direndahkan lewat meme meme yang jenaka. Mereka membully jam mewah Novanto “Richard Mille”, diplomasi Novanto diledek sebagai “Yes Highly…”

Padahal Novanto sudah penuh hitungan, yang bakal menang adalah Trump, dan ia harus membangun lobi-lobi khusus, bila pertemuan itu dilakukan pra kampanye akan menaikkan nilai entry lobbying bagi pihak penguasa Amerika yang baru, Jokowi paham salah satu kekuatan Novanto adalah ia mampu mencium aroma kemenangan, dan langkah politiknya adalalah akomodir bukan pertempuran dan bila Trump menang jalur Novanto ke Gedung Putih dilakukan tidak lewat makelar lobbying lagi.

Kini Asia Tenggara akan jadi zona paling banyak gesekannya dalam mempertaruhkan zona dagang, Amerika tidak mau mundur dari sisa sisa peninggalan Inggris dan di seluruh pesisir Filipina, sementara Cina ingin menguasai Nanyang, sampai membujuk semua kekuatan menyodet selat genting Kra di Thailand untuk dijadikan Terusan Suez dan mematikan Port Klang serta Pelabuhan raksasa Singapura.

Seperti ketika seluruh markas markas Golkar kini semuanya dipasang baliho besar-besar “Jokowi”. Dan Novanto kini menjelma jadi koridor lobbying Indonesia di Gedung Putih.

Politik tidak sesederhana yang anda duga dan selucu yang anda kira….

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s